Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam Buku 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam Buku 2. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 September 2009

Keteladanan Keluarga Rasulullah SAW

Kecintaan Nabi Terhadap Istrinya Siti Khadijah

Terjadinya perkawinan Nabi Muhammad dengan Khadijah di luar dugaan orang. Kaum Quraisy dan keluarga dari kedua belah pihak tidak ada seorangpun yang menyangka bahwa keduanya akan menjadi suami istri.
Nabi Muhammad seorang pemuda yang miskin, dari kecil sudah tidak berayah dan tidak beribu. Beliau pernah menjadi buruh pengembala kambing dan buruh memperniagakan dagangan orang lain, tetapi dia terkenal sebagai pemuda yang jujur dan berakhlak mulia.
Khadijah seorang perempuan yang telah janda dua kali, seorang wanita yang telah mengalami manis pahimya berumah tangga, karena ia pernah dua kali nikah dengan dua orang pria terpandang dalam masyarakat Arab, yaituAtiq bin'Aid danAbuHallahHindun bin Zararah. Sebagai hartawan, selama menjadi janda ia telah berulang kali dipinang oleh orang-orang dari golongan hartawan Quraisy, tetapi ia menolak, dengan alasan tidak akan kawin lagi karena usianya sudah empat puluh tahun, lima belas tahun bedanya dengan Usia Nabi Muhammad.
Tetapi lantaran Allah telah mentakdirkan bahwa kedua orang itu harus bertemu dan menjadi suami istri, maka tidak ada seorang juapun yang bisa menolak atau menghalangi ketentuan Allah ini.
Keadaan rumah tangga Nabi Muhammad sangat harmonis, dan penuh rasa kasih sayang.

Lima belas tahun lamanya rumah tangga Khadijah dan Nabi Muhammad, selama itu kehidupan dua orang suami istri sangat harmonis, tidak pernah terjadi soal-soal yang mengganggu pikiran dan perasaan kedua belah pihak. Hubungan yang dijalin dengan cinta dan kasih sayang itu bukan hanya menjadi teladan bagi semua rumah tangga di Makkah, melainkan juga dibicarakan oleh sejarah sepanjang zaman.
Suatu hari Halah binti Khuwalid, saudara Khadijah datang kepada Rasulullah. Beliau lantas mengenalinya, karena cara meminta izinnya persis seperti Khadijah. Beliau terharu sambil mengucapkan: "Wahai Tuanku", hal ini karena teringat kepada istrinya Khadijah sewaktu masih hidup.
Nabi pernah bersabda kepada Aisyah istrinya: "Demi Allah, tidak ada Allah menggantikan bagiku dengan yang lebih dari pada Khadijah, dia beriman kepadaku ketika semua orang mendustakanku, dia menyantuni aku dengan seluruh harta bendanya ketika semua menahannya dari padaku dan aku dikarunia anak-anak dari padanya sedang dengan yang lain tidak".
Suatu hari Rasulullah diberi hadiah daging unta, kemudian Nabi dengan tangannya sendiri memotong daging tersebut dan menyuruh seseorang pergi membawanya kepada seorang wanita bekas teman Khadijah. Aisyah berkata: "Kenapa tuan mengotori tangan tuan sendiri begitu? Rasulullah menerangkan bahwa Khadijah telah berwasiat kepadaku tentang wanita itu".
Kecintaan Nabi Muhammad kepada istrinya Khadijah, tetap berlangsung terus walaupun istrinya telah meninggal dunia. Sehingga tahun wafat Khadijah disebut Aamul Huzni (Tahun Kesedihan).
Demikianlah kecintaan Nabi kepada Khadijah, sehingga ketika istrinya wafat, beliaulah yang mengurus jenazahnya hingga dikuburkan di Mu'alla, Syi'ib Hayun. Kuburannya masih dapat dikenal sampai sekarang.

Pengorbanan Khadijah Dalam Membela Perjuangan Nabi

Kecintaan Khadijah kepada suaminya, Muhammad Rasulullah juga sangat mendalam. Khadijah sebagai istri Nabi dengan tulus ikhlas menyerahkan semua kekayaannya guna diberikan kepada siapapun yang datang mengharapkan bantuan dan pertolongan serta untuk kepentingan dakwah Islamiyah.
Khadijah adalah yang mangobati kepedihan Rasulullah akibat ditinggal wafat oleh ayah bundanya sejak masih kecil.
Khadijah yang menyediakan dan mengorbankan segala-galanya bagi ketenangan dan ketentraman sewaktu beliau menerima wahyu pertama. Khadijah yang dengan lembut dan penuh kasih sayang menyambut kedatangan Rasulullah dari Gua Hira, lalu mempercayai, membenarkan dan mengimani kenabian beliau tanpa keraguan sedikitpun.
Khadijah seorang wanita yang rela meninggalkan semua kekayaannya, kemewahan dan kenikmatan hidup untuk mendampingi suaminya dan turut pula merasakan berbagai kesukaran, penderitaan dan cobaan berat dalam menghadapi penindasan dan pengejaran kaum musyrikin Quraisy.
Bantuan, perlindungan, pembelaan, dan pengorbanan Siti Khadijah demi tegaknya kebenaran Allah di pmuka bumi akan tetap tertulis dengan tinta emas dalam sejarah Islam.

Mengatasi masalah-masalah Kemasyarakatan.

1. Ajaran Nabi Muhammad tentang perbaikan sosial dimasyarakat Periode Makkah
Ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW pada awal Periode Makkah banyak ditekankan kepada ajaran Tauhid dan pembinaan aqidah. Hal ini disebabkan karena masyarakat Quraisy pada saat itu masih hidup dalam penyembahan berhala, patung, binatang dan lain-lain.
Nabi Muhammad mengajarkan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Hanya kepada-Nyalah ibadah dilakukan. Hanya kepada-Nyalah hati dan jiwa manusia dihadapkan.
Kemudian diajarkan pula oleh beliau bahwa Tuhan telah memilih beberapa orang tertentu untuk menerima wahyu dari pada-Nya, untuk disampaikan kepada seluruh umat manusia.
Mereka itulah Nabi atau Rasul. Tujuan wahyu adalah untuk mengajarkan manusia tentang kebaikan dan akhlak yang mulia.
Di samping itu diajarkan pula masalah-masalah kemasyarakatan tentang kerukunan hidup, saling membantu, saling tolong menolong, membantu kepada yang lemah, menolong kepada fakir miskin dan orang-orang tertindas.
Dalam hal ini Rasulullah bersabda:


Artinya: "Barang siapa yang tidak mementingkan urusan kaum muslimin maka ia tidak termasuk golongan mereka ".
Dalam mengatur masyarakat, Islam mengharamkan penumpahan darah dan dilarang pula untuk menuntut bela dengan cara menjadi hakim sendiri-sendiri seperti zaman Jahiliyah. Islam menyerahkan penuntutan itu kepada pemerintah.
Islam yang pertama mengangkat derajat wanita. Islam memberikan hak kepada wanita sesuai dengan kodratnya. Islam menegakkan pula ajaran persamaan antara sesama manusia dan memberantas masalah perbudakan.
Dalam Al-Qur'an diterangkan, termasuk orang yang mendustakan agama orang yang tidak peduli akan anak yatim dan fakir miskin.
Simaklah surat Al-Maun di bawah ini:


1. Tahukah kamu orang yang mendustakan agama.
2. Itulah orang-orang yang menghardik anak yatim
3. Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (QS. Al-Maun ayat 1-3)
Dengan diutusnyaNabi Muhammad sebagai Rasulullah, maka mulailah sedikit demi sedikit kebobrokan dan kebejatan moral bangsa Arab diperbaikinya.
Mulai dari penyembahan terhadap berhala berubah menjadi menyembah Allah SWT. Kehidupan yang berfoya-foya, penindasan, pemerkosaan, pemabukkan beralih kepada tata cara yang diatur oleh ajaran Islam.
2. Langkah-langkah para sahabat dalam perbaikkan sosial masyarakat Periode Makkah
Langkah-langkah yang dilakukan oleh para sahabat dan kaum muslimin dalam rangka perbaikan sosial masyarakat ialah dengan jalan memupuk kerukunan hidup, tolong menolong, mengangkat derajat wanita, membantu kepada yang lemah, fakir miskin, yatim piatu dan membebaskan budak-budak yang dianiaya oleh tuannya lantaran memeluk agama Islam.
Siti Khadijah sebagai istri Rasulullah dengan tulus ikhlas menyerahkan semua kekayaannya untuk menolong fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkannya. Sahabat Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Thalhah, Abdurrahman bin Auf dan lain-lainnya telah memberikan harta kekayaannya kepada fakir miskin dan yang membutuhkannya serta untuk kepentingan masyarakat Islam.
Rasulullah menganjurkan kepada siapa yang mempunyai budak agar dimerdekakan. Apalagi kalau budak tersebut memeluk agama Islam. Oleh karena itu, maka para sahabat Nabi yang mempunyai budak langsung memerdekakannya, bahkan ada beberapa sahabat yang membeli budak yang sedang disiksa dan dianiaya oleh tuannya lalu dimerdekakan. Di antara para sahabat yang paling banyak memerdekakan budak ialah sahabat Abu Bakar Siddiq
Kesadaran para sahabat akan hal ini adalah sebagai hasil pengarahan dan penggemblengan Rasulullah pada Periode Makkah. Betapa agung dan mulia ajaran Islam yang memerintahkan berlaku baik dan lemah lembut kepada para budak dan menganjurkan agar menghormatinya. Demikianlah prinsip-prinsip penting yang telah ditetapkan oleh Islam untuk memerdekakan para budak.

Membina Masyarakat di Mekkah

Cara Pembinaan

Berdakwah di muka umum

Setelah turun wahyu kedua, secara berturut-turut Nabi Muhammad SAW menerima wahyu berikutnya.Allah SWT memerintahkan agar Nabi Muhammad SAW menyeru kepada umat secara terang-terangan.
Dengan perintah dari Allah SWT tersebut, Nabi Muhammad langsung melakukan dakwah di depan orang banyak.Dakwah yang disampaikan Nabi Muhammad tersebut berisi ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan dengan suara yang lantang dan tegas, sehingga dapat menawan hati yang mendengarnya.
Dakwah secara terang-terangan ini dimaksudkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah agar masyarakat Makkah mengetahui kebenaran yang datang dari Allah SWT.Dengan demikian masyarakat Makkah akan berpikir dan tertarik untuk memeluk agama Islam.

Khutbah Nabi Muhammad di bukit Shafa

Pada suatu ketika, Nabi Muhammad SAW mengumpulkan masyarakat Makkah di bukit Shafa. Setelah masyarakat berkumpul di bukit Shafa, Nabi Muhammad kemudian berpidato di hadapan mereka. Nabi Muhammad menyerukan agar masyarakat Makkah menyembah Allah SWT dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah serta beliau menyerukan agar masyarakat Makkah tidak lagi menyembah berhala-berhala.
Di antara masyarakat Makkah yang mendengar pidato Nabi Muhammad tersebut ada yang langsung memeluk Agama Islam. Namun demikian, sebagian dari mereka menolak ajaran Nabi Muhammad SAW tersebut, terutama yang bernama Abu Lahab. Setelah mendengar pidato Nabi Muhammad di bukit Shafa, Abu Lahab merasa sangat tidak senang dan langsung marah-marah di hadapan Nabi.
Abu Lahab menghina dan mencela Nabi Muhammad SAW. Dalam keadaan marah-marah Abu Lahab berkata: "Hai Muhammad! hanya untuk itu engkau panggil kami kemari?, celakalah engkau".
Setelah beberapa lama Abu Lahab menghina dan mencela Nabi Muhammad SAW, kemudian turunlah wahyu dari Allah S WT. Wahyu Allah yang turun tersebut adalah surat Al-Lahab. Surat tersebut berisi kutukan Allah kepada Abu Lahab dan istrinya. Allah mengatakan bahwa tempat mereka adalah di neraka.

Nabi Muhammad menyeru kepada keluarganya untuk masuk Islam

Ajaran Islam yang datangnya dari Allah tersebut oleh Nabi Muhammad disiarkan tanpa henti-hentinya kepada masyarakat di Makkah dan juga Nabi Muhammad mengadakan pertemuan dengan keluarganya, sambil mengajak mereka agar memeluk agama Islam.
Kadang-kadang Nabi Muhammad menyampaikan kabar yang menakutkan kepada mereka, yaitu tentang siksaan Allah di api neraka bagi orang yang mendurhakai agama Allah. Dalam pertemuan tersebut hadir pula Abu Lahab yang senantiasa membenci dan mencela ajaran yang dibawa Nabi Muhammad SAW.
Mendengar ucapan dan seruan Nabi Muhammad tersebut, Abu Lahab sangat murka dan mengatakan kepada keluarganya agar Nabi Muhammad lebih baik dipenjarakan saja, karena menurutnya, Nabi Muhammad telah menghina dan mencela ajaran nenek moyang mereka.
Dalam pertemuan tersebut berbicara pula saudara perempuan Abu Lahab yang bernama Saifah binti Abdul Muthallib, untuk membela Nabi Muhammad SAW. Mendengar dan melihat pembelaan dari saudara perempuannya tersebut, Abu Lahab semakin marah dan membenci Nabi Muhammad. Abu Lahab bahkan berkata ia akan menyiksa Nabi Muhammad.
Tiba-tiba dalam pertemuan tersebut Abu Thalib berkata dengan lantang bahwa ia akan tetap melindungi Nabi Muhammad SAW.
Mendengar ucapan Abu Thalib tersebut, Abu Lahab sangat ketakutan dan akhirnya pertemuan tersebut bubar. Abu Lahab tidak jadi melaksanakan niatnya untuk memenjarakan Nabi Muhammad SAW.

Reaksi Kaum Kafir

Dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya selama di Makkah baik secara sembunyi-sembunyi maupun secara terang-terangan, hasilnya makin hari makin bertambah, baik dari golongan bangsawan, hartawan, orang-orang desa dan ada juga golongan hamba sahaya..
Sebab itulah mulailah orang-orang kafir Quraisy timbul reaksi untuk menghalangi dan merintangi dakwahNabi.
Bentuk rintangan yang dilakukan oleh tokoh-tokoh dan pemuka-pemuka kafir Quraisy itu, antara lain.
1. Menyebarkan isu, menjelek-jelekan dan memojokkan Nabi Muhammad.
2. Membikin propaganda untuk menj auhi Nabi
3. Mendatangi dan mengancam Abu Thalib paman Nabi yang selalu melindunginya
Untuk merintangi jalannya dakwah Nabi Muhammad, Abu Lahab menghasut laki-laki bangsa Quraisy, Ummu Jamil menghasut orang-orang perempuan bangsa Quraisy dan Abu Jahal menghasut pemuda-pemuda bangsa Quraisy dan pemuda-pemuda bangsa arab lainnya.

Ketiga orang ini, bekerja sendiri-sendiri, di mana-mana tiap hari dan tiap malam sibuk masuk kampung keluar kampung. Bentuk hasutan itu dengan menjelek-jelekan Nabi Muhammad SAW, seperti: "Muhammad itu jahat. Muhammad itu adalah orang yang sudah miring otaknya".
Pada waktu Nabi Muhammad sedang mengerjakan shalat di
Masjidil Haram, Uqbah bin Abu Mu'ith melemparinya dengan tahi unta, kepala Rasulullah yang penuh dengan tahi unta itu lalu dibersihkan oleh anaknya Siti Fatimah. Di lain waktu Uqbah bin Abu Mu'ith ini pernah mencekik Nabi Muhammad dengan kain sewaktu Nabi sedang shalat di Hijir Ismail.
Penganiayaan yang dilakukan para pemuka Quraisy terhadap Nabi Muhammad, tnakin lama makin kejam. Pada suatu hari, Nabi Muhammad dikerubuti, dipukuli, dan ditarik kesana kemari dijadikan seperti mainan. Bahkan ada di antara mereka yang menarik rambut dan jenggot Nabi sampai tercabut karena dari kerasnya tarikan itu.
Kejadian itu diketahui oleh sahabat Abu Bakar, lalu ia lari ke masjid untuk menolong beliau. Sesampainya di masjid dilihatnya diri Nabi sedang dikerubuti dan dibuat seperti mainan. Oleh karena itu, maka Abu Bakar berteriak: "Celakalah kamu semua! Apakah kamu hendak membunuh seorang laki-laki yang berkata: "Tuhanku hanyalah Allah", padahal sesungguhnya ia datang kepadamu dengan mambawa bukti-bukti dari Tuhanmu?".
Mendengar teriakan itu, lalu mereka mengerubuti dan memukuli Abu Bakar serta menarik rambut dan jenggotnya.
Dalam hal ini sahabat Abu Bakar tidak bisa melawan, ia berdiri di belakang Nabi sambil mencucurkan air matanya dan mengulangi teriakan seperti tadi.
Lalu Nabi Muhammad berkata: "Biarkanlah mereka hai Abu Bakar! Demi Dzat yang me'nguasai diriku dengan kekuasaan-Nya, sesungguhnya aku diutus untuk menundukkan mereka itu nanti".
Setelah mereka mendengar suara Nabi, mereka melepaskan beliau lalu bersama-sama bubar.
Usaha lainnya dari pemuka-pemuka Quraisy dalam rangka menghalangi dakwah Nabi yaitu mendatangi Abu Thalib. Abu Thalib yang mengasuh dan membesarkan Nabi sejak kecil, selalu memberikan perlindungan kepada Nabi dari tekanan kaum kafir Quraisy.
Pada suatu hari, datanglah Abu Jahalj Abu Sufyan, Abu Lahab dan lainnya kepada Abu Thalib. Mereka berkata: "Hai Abu Thalib, kamu sudah tua, harus menjaga dirimu, jangan membela Muhammad untuk terus berdakwah. Kalau hal itu dilakukan terus, maka keluarga kita bisa pecah dan binasa".
Selanjutnya pada suatu hari, datang lagi pimpinan kaum Quraisy yang lain membawa seorang laki-laki yang tampan dan rupawan bernama Amrah bin Al-Walid, yang usianya sebaya dengan Nabi Muhamad, lalu mereka berkata: "Hai Abu Thalib, Muhammad saya tukar dengan orang ini, peliharalah orang ini dan serahkan Muhammad kepadaku untuk aku bunuh apabila menolak kamu berdua saya bunuh".
Mendengar ancaman dan tekanan itu Abu Thalib menjawab dengan lantang: "Hai orang kasar, silahkan, dan berbuatlah sekehendak hatimu, aku tidak takut".
Pada satu waktu, Abu Thalib mengundang keluarganya Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Mereka diminta supaya ikut menjaga Nabi Muhammad dari penganiayan kaum kafir Quraisy.
Untuk penempaan keimanan dan aqidah, Nabi Muhammad menggunakan tempat di rumah Arqam Bin Abil Arqam Al-Makhzurni. Dalam membina para pengikutnya, Nabi langsung memimpinnya baik dengan cara lisan maupun dengan perbuatan. Kalau ada yang tidak mengerti, langsung bertanya kepada Nabi, kekeluargaan yang sangat erat. Di tempat itu juga para pengikutnya bisa terus-menerus melihat dan mencontoh serta mengikuti keteladanan Rasulullah dari dekat. Rasulullah tidak henti-hentinya mengajar dan mendidik para pengikutnya. Tiap hari datang dari rumahnya ke tempat tersebut.
Di tempat tersebut Nabi Muhammad berkumpul untuk menjalin ukhuwwah dan mahabbah sesama kaum muslimm dalam segala urusan kehidupan duniawi dan ukhrawi. Di tempat itu pula mereka bertemu tiap hari dalam satu barisan di hadapan Allah bersama-sama berdiri, rukuk dan sujud dengan satu tujuan yaitu beribadah kepada-Nya.